Ahad, 5 April 2009

MENCOBA MENEPIS KESULITAN











Aku seorang pribadi yang dibesarkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, aku bertumbuh dan besar di KabupatenTimor Tengah Selatan, terlahir disebuah kampung kecil yang bernama OEHALA yang jaraknya bila ditempuh dari Kota Kabupaten (SOE) kurang lebih 30 menit. Oehala kampung kecil yang indah dan penuh kenangan, kampung yang telah ikut membentuk dan membesarkanku. Kampung yang tak akan pernah dilupakan baik oleh aku secara pribadi dan oleh setiap pribadi yang telah bahkan pernah menginjakan kakinya kesana. Kesejukan dan panorama alam air terjunnya begitu menjanjikan dan memberikan suasana yang indah bagi setiap pribadi yang pingin melepaskan lelah dari semua kepenatan civitas dan aktifitas yang mengikat dan membelenggunya. Tapi juga merupakan tempat rekreasi yang sangat menakjubkan dan tidak bisa terlupakan oleh siapapun yang dah pernah kesana. Aku belajar di SD Impres Oehala yang telah membekaliku, selanjutnya melanglangbuana menelesuri semua Smp yang ada dan selesai di salah satu SMP yang bagiku begitu berarti karena membentukku sedemikian rupa menjadi satu pribadi yang harus bertanggungjawab yaitu SMP Kristen 4 Soe, selanjutnya melanjutkan ke SMA Negri 2 Soe yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat dimana aku dan keluargaku tinggal, kemudian melalui suatu kisah yang teramat panjang aku akhirnya harus meninggalkan kampung halaman dan mengungsi ke Kota Propinsi yaitu Kupang disini hidupku dibentuk sedemikian rupa untuk melewati dan menepis semua kesulitan yang tiada henti aku aku harus alami dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menuntaskan studiku dan tidak ada pilihan lain akupun akhirnya bergabung dengan salah satu SMA yang ada di Kupang yaitu SMA Teladan yang juga ikut membentukku menjadi suatu pribadi yang harus gagah dan kokoh di dalam menghadapi setiap badai kehidupan yang akhirnya bisa dilewati dengan baik.
Rasa puas atas prestasi yang sudah didapat di bangku pendidkan mendorongku untuk menimba pengalaman sebanyak mungkin yang membawaku kembali ke Timor-timur (Negara Timor Timur sekarang) tahun 1994-1996. Di Negara ini aku berjuang dan berjuang, namun jauh berbeda dari apa yang aku pikirkan dan harapkan......karena situasi pada saat itu kurang mendukung dan bersahabat. Melihat situasi yang kurang bersahabat akupun memutuskan untuk meninggalkan Dili dan kembali ke kampung tercinta (Oehala). Dikampung halaman inilah Tuhan berbicara dan hal ini tidak dan sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Tapi inilah kenyataannya yang sekarang aku harus jalani dan tekuni hingga kesudahan segala sesuatu. Aku ikut mendaftar diri saat mendengar berita penerimaan siswa oleh Doulus Jakarta, singkatnya berangkat meninggalkan kampung tercinta dan ke Jakarta pada tahun 1997. Setibanya di Jakarta, semua yang direkrut dikirim ke Bandung. Di Bandung kembali aku dibentuk sebagai suatu pribadi yang utuh dan bisa menerima segala sesuatu yang bagiku asing, namun pada akhirnya semua bisa dan dapat dilewati. Dalamnya proses pembentukan, semua kami dibentur dengan sesuatu yang bila dicermati dan diselidiki tak akan dapat diterima dengan akal dan pikiran yang sehat oleh siapapun, namun lagi-lagi Kasih Yesus menepis semua kesulitan dan tantangan yang ada dan memberikan kelegaan bagi kami untuk menerima dan bisa melepaskan pengampunan bagi mereka yang sungguh tidak memiliki Kasih.
Dengan benturan yang kami alami, aku akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke Jakarta, di Jakarta aku dituntut untuk banyak belajar karena ketatnya persaingan dan perkembangan imformasi yang sedemikian pesat. Aku akhirnya mengambil keputusan untuk masuk ke salah satu lembaga pendidikan yang bagiku luar biasa yaitu STII Jakarta yang sangat-sangat memberkatiku dengan begitu banyak bekal pendidikan yang aku terima serta ikut membentuk kepribadianku yang boleh dibilang kacau dan amburadul (istilah orang Kupang). Berkat suport dan dorongan dari dosen-dosen di STII serta semangat, kegigihanaku dan rasa percaya diri yang tinggi "Bersama Yesus Kita Bisa" akhirnya aku bisa mencapai prestasi dengan baik, begitupula karakterku. Mereka merupakan perpanjangan tangan Allah yang begitu luar biasa membekali dan memperlengkapiku.
Setelah menyelesaikan studiku di bangku pendidkan ini, aku berpikir bebanku akan semakin ringan justru sebaliknya beban dipundakku semakin berat karena harus mempertanggungjawabkan semua yang sudah aku dapat dan berbagi dengan orang lain. Demi membagi beban dengan sejuta karakter dan budaya yang berbeda aku akhirnya mengambil keputusan untuk memperlengkapi diri dengan mempelajari bahasa Arab yang sekarang aku tekuni. Suatu bahasa yang sering dikategorikan sebagai bahasa surga oleh sebagaian orang, yang bagiku sangat-sangat sulit. Namun dalam Kuasa dan Kasih-Nya aku mencoba untuk menepis segala kesulitan yang ada. Dengan suatu motto yang ada yaitu: "BERSAMA YESUS KITA MAMPU MELAKUKAN SEGALA SESUATU; DIA YANG SUDAH MEMBUKA JALAN TIDAK ADA YANG BISA MENUTUP, BEGITUPULA SEBALIKNYA".
Segala Pujian, Hormat, Kuasa dan Kemuliaan hanya bagi Dia, Yesus Tuhanku.

Tiada ulasan: